Friday, November 5, 2010
I Will Survive Versi Melayu
Thursday, November 4, 2010
Kabare Wak! Sejak Bila Aku Jadi Wong Jowo?
Apapun sangat-sangat berterima kasih kat Cik Elyanabila kerana memasukkan nama aku untuk mengambil peperiksaan tersebut selepas kerani tempat aku sangat-sangat lalai. Dan aku pun ikut lalai. Oleh kerana bantuan dia, aku ditempatkan untuk mengambil periksa 5/8/2010. Dan selepas mengadu tentang SUPARJO ini tadi, Cik Elya menasihatkan aku untuk membawa salinan keputusan tersebut dan salinan IC aku untuk dibuat pembetulan. Yang penting LULUS yer. Ini peperiksaan benda yang sama kali kedua dalam perkhidmatan aku. Dulu dah lulus dengan sekali ambik dalam jawatan lama. Kali ni pun lulus dengan sekali ambik juga. Yang penting, aku bawak satu buku je. Lain semua aku jawab ikut pengetahuan aku 7 tahun dalam perkhidmatan awam. Hehe.
Video HD Letusan Awan Panas Merapi
Wednesday, November 3, 2010
Hatyai Sehari Sebelum 3 November 2010







Tuesday, November 2, 2010
Lawatan Ke Hatyai Dibatalkan Akibat Banjir
Ramai pelancong Malaysia terperangkap dalam banjir di Hatyai
BANGKOK 2 Nov. - Ratusan pelancong termasuk rakyat Malaysia masih terperangkap di daerah Hatyai di Songkhla, semasa daerah itu masih digenangi air setinggi antara dua dan tiga meter, dan jumlah kematian akibat bencana itu di Thailand kini menjangkau 104.
Banjir melanda bahagian selatan negara itu sejak semalam dan selain Hatyai, dua lagi daerah di Selatan iaitu Pathalung dan Nakhon Si Thammarat diisytihar sebagai zon bencana, manakala wilayah Pattani dan Narathiwat pula turut dilanda banjir.
Ramai pelancong kini terkandas di stesen keretapi dan bilik-bilik hotel, namun jumlah sebenar masih belum dikenal pasti. - Bernama
Itu berita yang aku baca baru sekejap tadi. Berita panas bak goreng pisang lagi tu. Esok, 03.11.10, penerbangan aku ke Hatyai akan berlepas jam 12 tengahari. Mengikut Jadual, aku akan pulang ke Kuala Lumpur lusa petang menaiki tren Senandung Langkawi Hatyai - KL. Oleh kerana banjir semakin buruk, maka dengan ini, aku membuat keputusan untuk MEMBATALKAN kunjungan hormat ke Hatyai dan membiarkan pesawat itu membawa mereka-mereka yang terkena getah. Selamat mengharung banjir. Hehehe.
Islam Kejawen Dan Gunung Merapi
Jakarta - Jika ilmuwan vulkanologi menyatakan awan mirip Petruk tidak berarti apa-apa, Ponimin (50) yang disebut-sebut "sakti" seperti Mbah Maridjan, punya penafsiran sendiri. Menurutnya, hidung Petruk yang menghadap Yogyakarta mengandung arti Merapi mengincar Yogyakarta. "Memang sebenarnya yang di arah Yogyakarta, sasaran Merapi Yogya," kata Ponimin saat ditemui wartawan di Kaliadem, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat (29/10/2010). Kenapa Yogyakarta yang diincar? Ponimin punya alasan sendiri, dia yakin itu karena tabiat orang-orang di sana. "Di Yogya ini banyak orang-orang tidak baik, mereka yang diincar Merapi. Para penunggunya sudah marah dengan kondisi masyarakat," jelas Ponimin yang saat ditemui tengah "diantre" para jurnalis asing. Ponimin menjelaskan, untuk menanggulanginya diperlukan pertobatan. Masyarakat bisa meningkatkan amalan. "Kalau tidak ingin Yogya jadi sasaran kemarahan penghuni Merapi, kata istri saya, kita harus banyak mengaji," terangnya. Ponimin bersama 7 anggota keluarganya selamat dari awan panas Merapi. Dia dan keluarganya berlindung di bawah mukena yang biasa dipakai istrinya salat. Rumah Ponimin hanya berjarak 200 meter dari rumah Mbah Maridjan. Ponimin dikenal warga lereng Merapi sebagai orang nomor dua setelah Mbah Maridjan. Dia biasa dimintai tolong warga untuk menangkal hujan atau menggelar selamatam. Ponimin menyatakan bahwa sosok mirip Petruk itu merupakan salah satu penunggu Merapi. "Memang di puncak Merapi ada sosok Mbah Petruk, saya pernah bertemu. Sosoknya kaya mbah-mbah. Tapi di sana banyak jin dan para sesepuh, seperti Kiai Sidik Purnomo, Empu Permadi, Empu Romo, Empu Branjang Wesi, dan ada Eyang Guntur Geni," jelasnya. Suswanto (40), warga Srumbung, Magelang, mengabadikan awan yang berbentuk Petruk dengan bidikan kamera ponselnya pada Senin 25 Oktober selepas subuh. Sebagian sesepuh di desa tersebut mengartikan itu sebagai tanda bahwa akan ada letusan Merapi yang besar. Kepala Mbah Petruk yang menghadap ke selatan artinya musibah akan terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya.
