Saturday, July 13, 2013

Lewat Makan Tengahari Boleh Sebabkan Kegemukan



Lewat mengambil lunch boleh memberi masalah kepada berat badan anda. Patutlah saya makan bertalam-talam di tengahari tetapi tetap tak gemuk (walaupun) sebab saya hanya adakalanya sahaja bermakan malam. Kajian oleh Brigham and Wome's Hospital serta University of Murcia menunjukkan orang yang lewat makan tengahari iaitu selepas 3 petang lebih sukar menurunkan berat badan. Sila lah baca artikel teman cedok dari negara sebelah ni. Tak kuase nak translate. Tak paham tanya ye.

Dalam bulan Ramadan ni, kurang-kurangkanlah makan yer. Perut kita ni kalau diajar makan sikit, gerenti cukup. Tapi kalau dituruti nafsu, gajah panggang pun tak cukup. Maka berbukalah dengan makanan yang tidak perlu berat-berat. Kerana Ramadhan itu adalah untuk mengenang orang yang lapar tak makan.

Rabu, 30/01/2013 12:01 WIB

Hati-hati, Telat Makan Siang Bikin Susah Langsing!

Fitria Rahmadianti - detikFood

Jakarta - Ternyata, makan siang berperan sama penting dengan sarapan dalam hal penurunan berat badan. Makan siang bukan hanya tak boleh dilewatkan sama sekali, melainkan juga harus dikerjakan tepat waktu kalau Anda ingin cepat langsing.

Kesibukan bekerja terkadang membuat kita mengabaikan makan siang. Bisa jadi kita bersantap di meja kerja, atau bahkan hampir melupakannya sama sekali dan baru bersantap siang menjelang sore.

Sebaiknya, ubahlah kebiasaan buruk tersebut. Pasalnya, penelitian terbaru yang dilakukan Brigham and Women's Hospital dan University of Murcia menunjukkan bahwa orang yang telat makan siang lebih sulit menurunkan berat badan.

Kesimpulan ini diambil dari riset yang melibatkan 420 orang gemuk di Spanyol. Mereka mengikuti program penurunan berat badan selama 20 minggu. Setengah dari mereka menyantap makan siang sebelum jam tiga sore, sementara sisanya setelah itu.

Ternyata, diketahui bahwa kelompok yang bersantap lebih awal sukses menurunkan berat badan rata-rata 10 kg. Angka ini 2,3 kg lebih banyak dibanding mereka yang telat makan. Laju penurunan berat badan pada kelompok kedua juga jauh lebih lambat. 

Dari riset ini diketahui bahwa mereka yang telat makan mengonsumsi lebih sedikit kalori saat sarapan. Mereka juga cenderung melewatkan sarapan sama sekali. Kelompok inipun diperkirakan memiliki sensitivitas insulin yang lebih rendah. Hal ini bisa menjadi faktor risiko diabetes.

Peneliti juga memeriksa faktor tradisional lain yang berperan dalam penurunan berat badan, seperti total asupan kalori dan pengeluarannya, hormon nafsu makan seperti leptin dan ghrelin, serta durasi tidur.

Dari faktor-faktor tersebut, peneliti tak menemukan perbedaan antara kedua kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa waktu makan merupakan faktor penting dan independen dalam kesuksesan penurunan berat badan.

"Strategi terapi baru seharusnya tidak hanya melibatkan asupan kalori dan distribusi makronutrien seperti yang umum dilakukan, melainkan juga waktu makan," ujar Doctor Marta Garaulet dari University of Murcia, seperti dilansir Daily Mail (29/01/13).

Di antara tiga kali waktu makan, para partisipan paling banyak makan saat jam santap siang atau sekitar 40% dari total kalori harian. Makanya, peneliti menemukan bahwa waktu makan pagi atau malam yang jumlah asupan kalorinya lebih sedikit tak berperan dalam penurunan berat badan.

"Inilah studi prospektif pertama dalam skala besar yang menunjukkan bahwa waktu makan dapat meramalkan efektivitas penurunan berat badan," tulis Dr. Frank Scheer dari Brigham and Women's Hospital dalam International Journal of Obesity.

Wednesday, July 10, 2013

Asal Usul Nasi Ganja Ipoh

Asal nama Nasi Ganja ialah apabila tibanya bulan puasa, ianya dijual seperti menjual dadah kepada umat Islam yang tidak mahu berpuasa. Ia dijual seperti drive-through di lorong sebelah kanan kedai tersebut dan Nasi Ganja yang siap dibungkus dengan suratkhabar dan plastik dibungkus pula ke dalam plastik jinjing berwarna hitam.

Ramai orang luar Ipoh kerap mencari kedai menjual Nasi Ganja di Ipoh yang terletak di Jalan Yang Kalsom. Bila ditanya mengapa nasi tersebut dipanggil Nasi Ganja, penjualnya berbohong dengan mengatakan keenakan nasinya boleh membuatkan orang ketagih.

Di Ipoh, umat Melayu terdahulu menyebutnya Nasi Ganja. Umat Melayu terkemudian menyebutnya Nasi Wonggey yang berasal dari perkataan Tamil ' Vanggey' yang bermaksud 'mari'. 

Ini kerana penjual Nasi Ganja ini sepanjang tahunnya memanggil orang supaya singgah di kedainya dengan laungan 'vanggey, vanggey, vanggey' . Maka bersepahlah pula cawangan Nasi Vanggey di Ipoh kemudiannya.

Semoga Ramadhan kali ini membuatkan pengusaha Nasi Ganja ini tidak lagi mengaut untung dari perbuatan berdosa umat Islam lain.

Juga adalah diharapkan umat Islam di Ipoh telah berubah dengan tidak menjadikan Nasi Ganja ini sebagai penyebab untuk tidak berpuasa.