Tuesday, November 2, 2010

Islam Kejawen Dan Gunung Merapi

Jika Mbah Maridjan telah pun ke alam barzakh, kini datang bakal penggantinya pula mengeluarkan statement. Paling hairan, ciri percakapannya dan cara amalannya amat bertentangan sekali. Dia diketahui sebagai seorang yang warak, malah isterinya mengaji setiap hari. Tetapi statement yang dibuat olehnya cukup jelas besar kekhurafatannya. Itulah ISLAM KEJAWEN. Lihat petikan dibawah dari DetikNews.com :

Jakarta - Jika ilmuwan vulkanologi menyatakan awan mirip Petruk tidak berarti apa-apa, Ponimin (50) yang disebut-sebut "sakti" seperti Mbah Maridjan, punya penafsiran sendiri. Menurutnya, hidung Petruk yang menghadap Yogyakarta mengandung arti Merapi mengincar Yogyakarta. "Memang sebenarnya yang di arah Yogyakarta, sasaran Merapi Yogya," kata Ponimin saat ditemui wartawan di Kaliadem, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat (29/10/2010). Kenapa Yogyakarta yang diincar? Ponimin punya alasan sendiri, dia yakin itu karena tabiat orang-orang di sana. "Di Yogya ini banyak orang-orang tidak baik, mereka yang diincar Merapi. Para penunggunya sudah marah dengan kondisi masyarakat," jelas Ponimin yang saat ditemui tengah "diantre" para jurnalis asing. Ponimin menjelaskan, untuk menanggulanginya diperlukan pertobatan. Masyarakat bisa meningkatkan amalan. "Kalau tidak ingin Yogya jadi sasaran kemarahan penghuni Merapi, kata istri saya, kita harus banyak mengaji," terangnya. Ponimin bersama 7 anggota keluarganya selamat dari awan panas Merapi. Dia dan keluarganya berlindung di bawah mukena yang biasa dipakai istrinya salat. Rumah Ponimin hanya berjarak 200 meter dari rumah Mbah Maridjan. Ponimin dikenal warga lereng Merapi sebagai orang nomor dua setelah Mbah Maridjan. Dia biasa dimintai tolong warga untuk menangkal hujan atau menggelar selamatam. Ponimin menyatakan bahwa sosok mirip Petruk itu merupakan salah satu penunggu Merapi. "Memang di puncak Merapi ada sosok Mbah Petruk, saya pernah bertemu. Sosoknya kaya mbah-mbah. Tapi di sana banyak jin dan para sesepuh, seperti Kiai Sidik Purnomo, Empu Permadi, Empu Romo, Empu Branjang Wesi, dan ada Eyang Guntur Geni," jelasnya. Suswanto (40), warga Srumbung, Magelang, mengabadikan awan yang berbentuk Petruk dengan bidikan kamera ponselnya pada Senin 25 Oktober selepas subuh. Sebagian sesepuh di desa tersebut mengartikan itu sebagai tanda bahwa akan ada letusan Merapi yang besar. Kepala Mbah Petruk yang menghadap ke selatan artinya musibah akan terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya.

4 comments:

  1. Mbah Maridjan (83), ditemukan dalam posisi sedang sujud di dekat rumahnya, Saat dievakuasi, posisi Mbah Maridjan masih sujud dengan luka bakar di tubuhnya. Jenazah Mbah Maridjan dikenali dari batik yang dikenakan jenazah. Lanjut >>

    ReplyDelete
  2. terima kasih kerana meninggalkan komentar sdr. sutaryo..

    tetapi ada maklumat mengatakan mbah maridjan sujud bukan ke arah kiblat.. tetapi ke arah selatan..

    namun kita harus bersangka baik.. saya anggap mbah maridjan dijemput ketika sedang solat magrib..

    ReplyDelete
  3. mbah marijan meninggal dalam keadaan sujud ke arah selatan atau keraton .diartikan , meminta maaf karena tidak dpt menjaga merapi.karena tahu , merapi semakin marah dengan kejadian ini .setelah pada 2006 dapat di redam .

    ReplyDelete
  4. memang penduduk wajar mengungsi jauh-jauh.. dan merapi wajar meletus sepuas-puasnya.. agar bisa diredam lagi untuk jangkawaktu yang lama..

    ReplyDelete